Tradisi Pemahaman Teks dalam Al-Quran dan Bibel

Pendahuluan

Al-Quran dalam bidikan. Berbagai upaya dilancarkan para musuh Islam, dari kalangan kaum orientalis-Kristen, untuk mendekonstruksi pesan-pesan substansial di dalam Al-Quran. Salah satunya, dengan jalan menyuntikkan ilmu hermeneutika ke dalam studi tafsir Al-Quran. Masuknya ilmu hermeneutika –yang pada mulanya diterapkan untuk menafsirkan Bibel–­ ke dalam kancah penafsiran Al-Quran, akan memarginalkan hasil kerja para mufasir kita selama ini, yang sering dituding tak mampu menampilkan wajah Islam yang universal dan plural. Tafsir-tafsir klasik Al-Quran pun menuai hujatan tiada tara.

Prof. Dr. M. Amin Abdullah, yang terkadang dijuluki “Bapak Hermeneutika Indonesia” karena kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode “tafsir baru” pengganti metode tafsir Al-Quran yang klasik[i], di dalam salah satu tulisan pengantar untuk buku Hermeneutika Pembebasan, dia menulis :

“Metode penafsiran Al-Quran selama ini senantiasa hanya memperhatikan hubungan penafsir dan teks Al-Quran, tanpa pernah mengeksplisitkan kepentingan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufasir klasik lebih menganggap tafsir Al-Quran sebagai kerja-kerja kesalehan yang dengan demikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya. Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yang maha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.”[ii]

Dalam buku yang sama, penulis buku itu sendiri juga secara serampangan memberikan tuduhan terhadap tafsir-tafsir Al-Quran :

“Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya.”[iii]

Sosialisasi metode hermeneutika memang sering disertai dengan kampanye penghancuran persepsi positif terhadap tafsir Al-Quran. Bahwa, tafsir-tafsir klasik tidak mampu lagi menjawab tantangan zaman. Jadi, perlu diganti dengan metode baru yang bernama hermeneutika. Bahkan, kadangkala yang ikut dikritik adalah ilmu-ilmu keagamaan (‘ulumud din) secara keseluruhan dan serampangan, dengan menimbulkan sikap tidak percaya dan kadangkala melecehkan kredibilitas ulama-ulama besar yang meletakkan dasar-dasar keilmuan Islam, seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali, dan sebagainya.[iv]

Euforia penerapan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran yang gencar disuarakan oleh kalangan akademisi muslim, cukup menjadi bukti nyata kesuksesan Barat-Kristen dalam menghegemoni dunia Islam. Dan, Barat kini bukan hanya menghegemoni dunia Islam dalam aspek politik, ekonomi, militer, sosial dan budaya. Globalisasi atau westernisasi bukan hanya berlangsung dalam aspek 3F (Food, Fun, Fashion), seperti disebutkan John Naisbitt, tetapi juga 1T (Tought).[v]

Fenomena merebaknya hermeneutika di kalangan akademisi Islam juga tidak terlepas dari hegemoni pemikiran Barat dalam studi Islam. Hermeneutika, kini, di berbagai perguruan tinggi Islam, bagaikan ‘wabah’ yang menjangkiti sarjana muslim. Banyak yang terjangkit, tetapi merasa bangga, karena menemukan sesuatu yang baru. Karena merasa ‘mainan baru’ ini akan membawa kemaslahatan umat, maka ‘barang lama’ berupa tradisi Islam dikecam dan mau dicampakkan begitu saja.[vi] Bagi mereka, hermeneutika dapat memperkaya dan dijadikan alternatif pengganti metode tafsir tradisional yang dituduh ahistoris (mengabaikan konteks sejarah) dan uncritical (tidak kritis). Kalangan ini tidak menyadari bahwa hermeneutika sesungguhnya sarat dengan asumsi-asumsi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis dan metodologis yang timbul dalam konteks keberagamaan dan pengalaman sejarah Yahudi dan Kristen.[vii]

Sebagai hal baru yang masuk dalam tradisi keilmuan Islam, hermeneutika seyogyanya dikaji secara cermat, sebelum memutuskan, metodologi interpretasi Bibel ini dapat diaplikasikan untuk menggantikan metode tafsir Al-Quran. Jika ditelaah, ternyata, hermeneutika memang berasal dari tradisi Kristen/Yahudi yang kemudian diadopsi oleh para teolog dan filosof Barat modern menjadi metode interpretasi teks secara umum. Hermeneutika berkembang dalam tradisi Kristen dan intelektual Barat, karena memang berangkat dari teks Bibel dan doktrin teologis Kristen yang mengandung banyak sekali masalah di mata para cendekiawannya sendiri.[viii] Dan, kini hermeneutika hendak diterapkan untuk menafsirkan Al-Quran.

Sejarah Singkat Hermeneutika

Secara etimologi, istilah “hermeneutics” berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika, bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan’. Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata “Hermes”, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu. Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang Bentuk Penafsiran yang Terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang Penafsiran Kitab Suci). Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’ (penafsiran teks-teks agama), sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’.[ix]

Adalah Schleiermacher, seorang teolog asal Jerman, yang konon pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik penafsiran kitab suci (Biblical Hermeneutics) menjadi ‘hermeneutika umum’ (General Hermeneutics) yang mengkaji kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya pemahaman atau penafsiran yang betul terhadap suatu teks. Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha Semler dan Ernesti untuk “membebaskan tafsir dari dogma”, ia bahkan melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum, “semua teks diperlakukan sama,” tidak ada yang perlu diistimewakan, apakah itu kitab suci (Bibel) ataupun teks karya manusia biasa. Kemudian datang Dilthey yang menekankan ‘historisitas teks’ dan pentingnya ‘kesadaran sejarah’ (Geschichtliches Bewusstsein). Seorang pembaca teks, menurut Dilthey, harus bersikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya, meskipun pada saat yang sama dituntut untuk berusaha melompati ‘jarak sejarah’ antara masa-lalu teks dan dirinya. Pemahaman kita akan suatu teks ditentukan oleh kemampuan kita ‘mengalami kembali’ (Nacherleben) dan menghayati isi teks tersebut.[x]

Di awal abad ke-20, hermeneutika menjadi sangat filosofis. Interpretasi merupakan interaksi keberadaan kita dengan wahana Sang Wujud (Sein) yang memanifestasikan dirinya melalui bahasa, ungkap Heidegger. Yang tak terelakkan dalam interaksi tersebut adalah terjadinya ‘hermeneutic circle’, semacam lingkaran setan atau proses tak berujung-pangkal antara teks, praduga-praduga, interpretasi, dan peninjauan kembali (revisi). Demikian pula rumusan Gadamer, yang membayangkan interaksi pembaca dengan teks sebagai sebuah dialog atau dialektika soal-jawab, di mana cakrawala kedua belah pihak melebur jadi satu (Horizontverschmelzung), hingga terjadi kesepakatan dan kesepahaman. Interaksi tersebut tidak boleh berhenti, tegas Gadamer. Setiap jawaban adalah relatif dan tentatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan ditolak. Habermas pergi lebih jauh. Baginya, hermeneutika bertujuan membongkar motif-motif tersembunyi (hidden interests) yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan pelbagai manipulasi, dominasi, dan propaganda di balik bahasa sebuah teks, segala yang mungkin telah mendistorsi pesan atau makna secara sistematis.[xi]

Hermeneutika modern yang dipelopori oleh Schleiermacher memang memunculkan persoalan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebab, hermeneutika modern menempatkan semua jenis teks pada posisi yang sama, tanpa mempedulikan apakah teks itu divine (dari Tuhan) atau tidak, dan tidak mempedulikan adanya otoritas dalam penafsirannya. Semua teks dilihat sebagai produk pengarangnya. Penggunaan hermeneutika modern untuk Bibel bisa dilihat sebagai bagian dari upaya liberalisasi di kalangan Kristen. Bagi Schleiermacher, faktor kondisi dan motif pengarang sangatlah penting untuk memahami makna suatu teks, di samping faktor gramatikal (tata bahasa).[xii]

Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran : Antara Perbedaan dan Relevansi

Hermeneutika tidaklah layak disinonimkan dengan tafsir Al-Quran, yang memiliki konsep yang jelas, berurat serta berakar di dalam Islam. Hermeneutika dibangun atas paham relativisme. Hermeneutika menggiring kepada gagasan bahwa segala penafsiran Al-Quran itu relatif, padahal fakta empiris menunjukkan para mufasir yang terkemuka sepanjang masa tetap memiliki kesepakatan-kesepakatan. Jika hermeneutika tetap digunakan sebagai sebuah sinonim terhadap tafsir, akan mengimplikasikan bahwa berbagai problematika yang ada di dalam hermeneutika, juga terjadi di dalam Al-Quran, padahal tidak seperti itu.[xiii]

Setidaknya ada tiga persoalan serius apabila hermeneutika diterapkan untuk menafsirkan Al-Quran. Pertama, memunculkan sikap kritis yang terkadang berlebihan dan curiga terhadap Al-Quran. Kedua, teks Al-Quran akan dipandang sebagai produk budaya yang dipengaruhi oleh kondisi sosio-historis Arab dan diabaikan dari hal-hal yang sifatnya transenden (ilahiyyah). Ketiga, memunculkan relativisme tafsir, sehingga kebenaran tafsir itu menjadi sangat relatif, yang pada gilirannya menjadi repot untuk diterapkan.[xiv]

Berbagai persoalan itu akan benar-benar muncul, apabila hermeneutika dijadikan metode untuk memahami Al-Quran. Karena, hermeneutika –yang berasal dari tradisi Yunani, kemudian berkembang sebagai metodologi penafsiran Bibel, yang kemudian dikembangkan oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora;[xv] dan sekarang banyak dikampayekan oleh kaum liberalis–, ia jelas tidak bebas-nilai. Ia mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.

Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya manusia. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bibel. Teks yang semula dianggap suci itu belakangan diragukan keasliannya. Campur-tangan manusia dalam Perjanjian Lama (Torah) dan Perjanjian Baru (Gospels) ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa. Bila diterapkan pada Al-Quran, hermeneutika otomatis akan menolak status Al-Quran sebagai Kalamullah, mempertanyakan otentisitasnya, dan menggugat kemutawatiran mushaf Usmani.

Kedua, hermeneutika menganggap setiap teks sebagai ‘produk sejarah’, sebuah asumsi yang sangat tepat dalam kasus Bibel, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Hal ini tidak berlaku untuk Al-Quran, yang kebenarannya melintasi batas-batas ruang dan waktu (trans-historical) dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia (hudan lin naas).

Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai ‘lingkaran hermeneutis’, di mana makna senantiasa berubah. Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi (textual corruption and scribal errors). Tetapi tidak untuk Al-Quran yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman.

Keempat, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, paham ini juga akan melahirkan mufasir-mufasir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali (liar).[xvi]

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) menilai bahwa metode tafsir Al-Quran “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain”. Ilmu tafsir Al-Quran merupakan asas yang di atasnya dibangun keseluruhan struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam. Itulah sebabnya mengapa Ath-Thabari (wafat 923 M) menganggap ilmu tafsir sebagai yang terpenting dibanding dengan seluruh pengetahuan dan ilmu. Ini adalah ilmu yang dipergunakan umat Islam untuk memahami pengertian dan ajaran kitab suci Al-Quran, hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.[xvii] Untuk itu, mungkinkah dalam rangka memahami kandungan Al-Quran, lalu kita ‘mengimpor’ metode hermeneutika, yang notabene berasal dari pemikiran dan peradaban di luar Islam?[xviii]

Prof. Dr. Wan Daud berkata tatkala mengkritik dosen pembimbingnya sendiri di Chicago University, yaitu Prof. Fazlur Rahman, yang mengaplikasikan hermeneutika untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Quran :

“Hermeneutika teks-teks agama Barat bermula dengan masalah besar: 1) Ketidakyakinan tentang kesahihan teks-teks tersebut oleh para ahli dalam bidang itu sejak dari awal karena tidak adanya bukti materiil teks-teks yang paling awal. 2) Tidak adanya laporan-laporan tentang tafsiran yang boleh diterima umum, yakni ketiadaan tradisi mutawatir dan ijmak. 3) Tidak adanya sekelompok manusia yang menghafal teks-teks yang telah hilang itu. Ketiga masalah ini tidak terjadi dalam sejarah Islam, khususnya dengan Al-Quran. Jika kita mengadopsi satu kaidah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami kerugian besar. Sebab kita akan meninggalkan metode kita sendiri yang telah begitu sukses membantu kita memahami sumber-sumber agama kita dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban internasional yang unggul dan lama.”[xix]

Menurut Dr. Ugi Suharto[xx], hermeneutika pernah berjaya dalam menafsirkan Bibel (kitab suci umat Kristen), karena disebabkan tiga faktor. Pertama, kalangan Kristiani masih berdebat tentang apakah secara harfiyah Bibel itu bisa dianggap kalam Tuhan atau hanya perkataan manusia. Kedua, adanya perbedaan pengarang yang menuliskan Bibel mengakibatkan perbedaan gaya dan kosa kata dalam Bibel. Ketiga, teks Bibel ditulis dan dibaca bukan lagi dalam bahasa asalnya, sehingga mempunyai masalah dengan isu orisinilitas[xxi].[xxii]

Namun demikian, apakah hermeneutika akan meraih sukses yang sama apabila diterapkan untuk menafsirkan Al-Quran? Tentu sangat mustahil, karena sudah disepakati oleh jumhur ulama bahwa Al-Quran adalah Kalamullah, firman Allah. Al-Quran tidak dikarang oleh manusia, dan sampai hari ini Al-Quran akan tetap ditulis dan dibaca menurut bahasa aslinya. Melihat fakta tersebut, nampaknya tidak tersedia peluang untuk menerapkan hermeneutika dalam upaya menginterpretasikan Al-Quran.[xxiii]

Kesesatan Jil dalam Pemahaman Al-Quran

Setidaknya, ada dua kesesatan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang cukup membahayakan terkait dengan Al-Quran.

Pertama, disuarakannya wacana dekonstruksi wahyu Al-Quran, yang mewabah dalam kancah pemikiran Islam Indonesia. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini juga sudah berkembang pesat. Kajian Biblical Criticism atau studi kritik Bibel dan kritik teks Bibel telah berkembang pesat di Barat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement. Buku-buku karya Prof. Bruze M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan bagaimana kuatnya tradisi kajian kritis terhadap teks Bibel. Begitu juga karya Werner Georg Kume, The New Testament : The History of the Investigation of Its Problem (Nashville : Abingdon Press, 1972).[xxiv]

Pesatnya studi kritis Bibel itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk ‘melirik’ Al-Quran dan mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Quran. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, Pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Quran, sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.[xxv]

Dan, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslim, bahwa Al-Quran adalah Kalamullah, bahwa Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang suci, bebas dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti Al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas Al-Quran, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama lain. Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004, “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat” (Jawa Pos, 11 Jannuari 2004).[xxvi]

Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie juga berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang Al-Quran :

“Sebagian besar kaum muslim meyakini bahwa Al-Quran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum muslim juga meyakini bahwa Al-Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Al-Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.”[xxvii]

Kesesatan JIL yang kedua dan ini berkaitan erat dengan wacana dekonstruksi Al-Quran adalah liberalisasi tafsir Al-Quran. Yakni, dengan menjadikan metode hermeneutika sebagai metode baru dalam penafsiran Al-Quran, menggeser posisi tafsir klasik yang dinilai uncritical dan ahistoris, sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya.

Model pendekatan hermeneutik menjadi ‘menu alternatif’ dalam kajian tafsir kontemporer sebagai rekonstruksi atas pendekatan tafsir yang selama ini dianggap kurang memadai lagi untuk menjawab tantangan zaman.[xxviii] Al-Quran tidak lagi dipahami sebagai wahyu yang “mati” sebagaimana dipahami oleh penafsir klasik-tradisional selama ini. Wahyu yang berupa teks Al-Quran itu dianggap sebagai sesuatu yang “hidup” (baca : wahyu progresif). Dengan kata lain, mereka mengembangkan model pembacaan yang lebih kritis, “hidup” dan produktif (qira’ah muntijah), bukan “pembacaan yang mati” (qira’ah mayyitah) dan ideologis.[xxix]

Pengaruh Negatif Hermeneutika dalam Pemahaman dan Perilaku Umat

Adian Husaini menyebutkan ada tiga dampak negatif hermeneutika jika diterapkan sebagai metodologi memahami Al-Quran. Dampak negatif tersebut akan merusak cara pandang, pemikiran, pemahaman dan bahkan perilaku umat.

Pertama, memunculkan relativisme tafsir. Paham relativisme tafsir ini sangat berbahaya, sebab : (1) Menghilangkan keyakinan akan kebenaran dan finalitas Islam, sehingga selalu berusaha memandang kerelativan kebenaran Islam. (2) Menghancurkan bangunan ilmu pengetahuan Islam yang lahir dari Al-Quran dan Sunnah Rasul yang sudah teruji selama ratusan tahun. Padahal, metode hermeneutika Al-Quran hingga kini masih merupakan upaya coba-coba beberapa ilmuwan kontemporer yang belum membuahkan pemikiran Islam yang utuh dan komprehensif. Akibatnya, para pendukung hermeneutika tidak akan mampu membuat satu tafsir Al-Quran yang utuh. Mereka hanya berkutat pada masalah dekonstruksi sejumlah konsep/hukum Islam yang sudah dipandang baku dalam Islam. (3) Menempatkan Islam sebagai agama sejarah yang selalu berubah mengikuti zaman. Bagi mereka tidak ada yang tetap dalam Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah dinyatakan final dan tetap (tsawabit) akan senantiasa bisa diubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Saat ini, sejalan dengan arus liberalisasi Islam, sudah banyak yang berani menghalalkan hukum-hukum yang sudah pasti, seperti haramnya muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, dan haramnya perkawinan homoseksual.[xxx]

Kedua, hermeneutika menyuburkan sikap curiga dan mencerca ulama Islam. Para pendukung metode ini juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang membabi buta terhadap para ulama Islam yang terkemuka, seperti Imam Syafi’i, yang berjasa merumuskan metodologi keilmuan Islam, yang tidak dikehendaki oleh para pendukung hermeneutika.[xxxi]

Misalnya, seorang sarjana syariah dari IAIN Semarang, M. Kholidul Adib Ach., menulis sebuah artikel berjudul “Al-Quran dan Hegemoni Arabisme”, yang secara terbuka menyerang integritas kepribadian dan keilmuan Imam Syafi’i. Ia menuduh bahwa pemikiran-pemikiran Imam Syafi’i dirumuskan untuk mengokohkan hegemoni Quraisy. Ia menulis :

“Syafi’i memang terlihat sangat serius melakukan pembelaan terhadap Al-Quran mushaf Utsmani, untuk mempertahankan hegemoni Quraisy. Maka, dengan melihat realitas tersebut di atas, sikap moderat Syafi’i adalah moderat semu. Dan sebenarnya, sikap Syafi’i yang demikian itu, tak lepas dari bias ideologis Syafi’i terhadap suku Quraisy.”[xxxii]

Ketiga, hermeneutika memunculkan dekonstruksi konsep wahyu. Sebagian pendukung hermeneutika memasuki wilayah yang sangat rawan dengan mempersoalkan dan menggugat otentisitas Al-Quran sebagai kitab yang lafzhan wa ma’nan minallah (lafazh dan maknanya dari Allah).[xxxiii] Dan, hal ini sangat berbahaya sekali, karena bersentuhan langsung dengan masalah akidah Islam.

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud menegaskan :

“Konsekuensi dari pendekatan hermeneutika ke dalam sistem epistemologi Islam, termasuk perundangannya, sangatlah besar, dan saya pikir agak berbahaya. Yang paling utama saya kira ialah penolakannya terhadap penafsiran yang final dalam suatu masalah, bukan hanya masalah agama dan akhlak, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antargenerasi, antaragama, kelompok manusia.”[xxxiv]

Wallahu a’lam bish shawab.

________________

Referensi :

Armas, Adnin, Tafsir Al-Quran atau Hermeneutika Al-Quran?, www.dewandakwah.com.

Husaini, Adian, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Gema Insani Press, Jakarta, cet. I, 2006.

____________, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen, www.hidayatullah.com.

____________, Proyek Liberalisasi Islam di Indonesia, http://www.hidayatullah.com.

____________, Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer, dalam Islamic Worldview, UMS Surakarta, 2008.

____________, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Gema Insani Press, Jakarta, 2005.

____________ dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, Gema Insani Press, Jakarta, cet. II, 2008.

Mustaqim, Dr. Abdul, Pergeseran Epistemologi Tafsir, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008.

Suharto, Dr. Ugi, Apakah Al-Quran Memerlukan Hermeneutika, http://www.hidayatullah.com.

Sutan, Fakhrurazi R., Hermeneutika Nodai Tafsir Al-Quran, http://www.swaramuslim.com.

 


[i] Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Gema Insani Press, Jakarta, cet. I, 2006, hal. 141.

[ii] Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Teraju, Jakarta, 2002, hal. xxv-xxvi; dikutip dari Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, hal. 136-137.

[iii] Ibid..

[iv] Ibid., hal. 137.

[v] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Gema Insani Press, Jakarta, 2005, hal. 288.

[vi] Ibid., hal. 289.

[vii] Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen, dikutip dari http://www.hidayatullah.com.

[viii] Ibid., hal. 289-290.

[ix] Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen, dikutip dari http://www.hidayatullah.com.

[x] Ibid.

[xi] Ibid.

[xii] Mircea Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, Encyclopedia Britannica Inc, 15th edition, Chicago; dikutip dari Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, Gema Insani Press, Jakarta, cet. II, 2008, hal. 14-15.

[xiii] Adnin Armas, Tafsir Al-Quran atau Hermeneutika Al-Quran?, http://www.dewandakwah.com.

[xiv] Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Gema Insani Press, Jakarta, Cet. I, 2006, hal. 153-155.

[xv] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, hal. 8.

[xvi] Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen, dikutip dari http://www.hidayatullah.com.

[xvii] Lihat Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, hal. 303.

[xviii] Gerakan ‘impor pemikiran’ ini semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies, yang dilandasi kegandrungan pada segala yang baru dan berbau Barat (everything new and western). Sayangnya, tidak banyak yang memiliki sikap ‘teliti sebelum membeli’ gagasan-gagasan impor yang sebenarnya bertolak-belakang dengan Islam, dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah seorang muslim. Salah satu produk asing tersebut adalah “hermeneutika”, yang sarat dengan asumsi-asumsi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis dan metodologis yang timbul dalam konteks keberagamaan dan pengalaman sejarah Yahudi dan Kristen. Lihat Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen, dikutip dari http://www.hidayatullah.com.

[xix] Lihat artikel Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di Majalah Islamia, edisi 1, tahun 2004, dan wawancara dengan beliau di majalah yang sama pada edisi 2, tahun 2004; dikutip dari Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, hal. 304.

[xx] Peneliti INSIST, Dosen di ISTAC-UIA Kuala Lumpur.

[xxi] Bahasa asal Bibel adalah Hebrew untuk Perjanjian Lama, Greek untuk Perjanjian Baru, dan Nabi Isa sendiri berbicara dengan bahasa Aramaic. Bibel ini kemudian diterjemahkan keseluruhannya dalam bahasa Latin, lantas ke bahasa-bahasa Eropa yang lain, seperti Jerman, Inggris, Perancis dan lain-lain. Termasuklah bahasa Indonesia yang banyak mengambil dari Bibel bahasa Inggris. Teks-teks Hebrew Bibel pula mempunyai masalah dengan isu originality. Lihat Dr. Ugi Suharto, Apakah Al-Quran Memerlukan Hermeneutika, http://www.hidayatullah.com.

[xxii] Lihat Fakhrurazi R. Sutan, Hermeneutika Nodai Tafsir Al-Quran, http://www.swaramuslim.com.

[xxiii] Ibid.

[xxiv] Adian Husaini, Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer, dalam Islamic Worldview, UMS Surakarta, 2008.

[xxv] Ibid.

[xxvi] Dikutip dari Adian Husaini, Proyek Liberalisasi Islam di Indonesia, http://www.hidayatullah.com.

[xxvii] Luthfi Assyaukanie, Merenungkan Sejarah Al-Quran, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed.), Ijtihad Islam Liberal, Jaringan Islam Liberal, Jakarta, 2005, hal. 1; dikutip dari Adian Husaini, Proyek Liberalisasi Islam di Indonesia, http://www.hidayatullah.com.

[xxviii] Dr. Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistemologi Tafsir, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008, hal. 86-87.

[xxix] Ibid., hal. 84.

[xxx] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, hal. 20.

[xxxi] Ibid., hal. 28.

[xxxii] Ibid., hal. 28-29.

[xxxiii] Ibid.

[xxxiv] Ibid., hal. 43.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: