“The Atlantis of The Sands” ; Penemuan Kota Yang Hilang dan Bukti Kebenaran Wahyu

“The Atlantis of The Sands” ; Penemuan Kota Yang Hilang dan Bukti Kebenaran Wahyu oleh Mu’jizat Al Qur’an pada 15 Oktober 2010 jam 11:25 Dalam sebuah kisah dalam Quran disebutkan tentang bangsa yang musnah, yang disebut dengan kaum Ad, mereka tinggal di daerah yang disebut dalam Al Quran sebagai Al Ahqaf, dan mereka telah membangun sebuah kota dengan pilar-pilar yang sangat besar yang disebut Iram. Allah mengutus Rasul-Nya, Hud, kepada kaum Ad. Menyeru mereka untuk tidak menyembah berhala dan hanya beriman kepada Allah pencipta langit dan bumi, tetapi mereka menolak dan bersikeras pada kebodohan dan khayalan mereka. Hud berkata kepada mereka; “Dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanya mengada-ngadakan saja. Hai Kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain, hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?'” (Hud : 50-51) “Kaum ‘Ad berkata;’Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak akan mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Hud menjawab; ‘Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan jangan lah memberi tangguh kepadaku.'” (Hud : 53-55) “Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhan-ku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhan-ku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Hud : 57) Quran menjelaskan bahwa orang-orang ini telah membangun sebuah kota dengan peradaban maju kala itu dengan pilar yang sangat besar di wilayah Al-Ahqaf, yang diperkirakan di sebelah selatan Semenanjung Arab. “Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (Al-Fajr : 6-8) Tetapi pada saat wahyu Quran turun 1400 tahun lalu, tidak ada tanda keberadaan kota ini, sehingga beberapa orang mempertanyakan kota ini dan mengatakan ini hanyalah legenda belaka. Namun sekitar dua dekade yang lalu ada terobosan dalam membuktikan fakta-fakta yang disebutkan oleh Quran tentang kota yang menakjubkan ini. Pada awal 90 an, press-release di koran-koran terkenal dunia menyatakan “Negeri dongeng kota Arab ditemukan,” “Legenda kota Arab ditemukan” dan “Kota Atlantis padang pasir, Ubar.” Keterangan yang diberikan para arkeologi ini menjadi semakin menarik, terutama bahwa kota ini disebutkan dalam Al Qur’an. Banyak orang sebelumnya menyebutkan ‘Ad adalah legenda atau bahwa lokasi tersebut tidak dapat ditemukan. Orang-orang seperti ini tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka pada penemuan yang cukup fenomenal. Dia adalah Nicholas Clapp, seorang pembuat film dokumenter dan dosen bidang arkeologi, yang menemukan kota legendaries yang disebutkan dalam Al Qur’an. Pemenang pembuat film dokumenter ini telah menjumpai suatu buku yang sangat menarik selama penelitiannya tentang sejarah Arabia. Buku tersebut berjudul “Arabia Felix” , yang ditulis oleh peneliti Inggris, Bertram Thomas, pada tahun 1932. Arabia Felix adalah sebuah design wilayah Romawi di bagian selatan Semenanjung Arab yang saat ini termasuk daerah Yaman dan sebagian besar Oman. Orang Yunani menyebut daerah ini “Eudaimon Arabia” dan cendekiawan Arab abad pertengahan menyebutnya sebagai “Al-Yaman as-Saeed.” Semua penamaan tersebut berarti “Happy Yaman”, karena orang-orang yang tinggal di daerah ini kerap menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan antara India dan tempat-tempat di utara Semenanjung Arab. Selain itu, orang yang tinggal di daerah ini menghasilkan dan mendistribusikan “frankincense,” resin aromatik dari pohon langka. Peneliti Inggris, Bertram Thomas, menjelaskan secara panjang lebar dan menyatakan bahwa dia menemukan jejak sebuah kota kuno yang didirikan oleh salah satu suku di sini. Ini adalah kota yang dikenal sebagai “Ubar” oleh suku Badui. Dalam salah satu perjalanan yang ia lakukan di daerah tersebut, suku Badui yang hidup di padang pasir telah menunjukan sebuah jalur usang dan menyatakan bahwa trek ini menuju ke arah kota kuno Ubar. Thomas, yang menunjukkan keinginan besar dalam hal ini, meninggal sebelum mampu menuntaskan penelitiannya. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” ( Ali Imran : 137) Clapp yang mempelajari apa yang ditulis oleh Thomas, menjadi yakin akan keberadaan kota yang hilang yang diuraikan dalam buku ini. Dia cepat-cepat memulai penelitiannya, mencoba melanjutkan dari tempat dimana Thomas mengakhirinya. Clapp mengambil dua pendekatan yang berbeda dalam misinya untuk membuktikan keberadaan Ubar. Pertama, ia mencari trek sebagaimana yang dikatakan suku Badui dan dalam rangka untuk membantu pekerjaannya, ia meminta bantuan pada NASA untuk menyediakan foto satelit daerah tersebut. Setelah perjuangan panjang, ia berhasil membujuk pemerintah untuk mengambil gambar daerah yang dia dambakan. Clapp melanjutkan dengan mempelajari naskah dan peta kuno di perpustakan Huntington di California. Di sini, dengan cepat ia menemukan peta yang meliputi wilayah yang ia tengah pelajari begitu intens. Dia menemukan sebuah peta yang digambar oleh ahli geografi Yunani-Mesir, Ptolemeus, pada tahun 200, yang menunjukkan lokasi kota tua yang ditemukan di kawasan dan jalur yang sebenarnya menuju ke kota ini. Sementara itu, penelitiannya semakin mendapat ‘angin segar’ ketika ia menerima kabar bahwa foto-foto satelit telah diambil oleh anggota NASA. Dalam gambar tampak jalur jalan kafilah, yang hampir tak terlihat dengan mata telanjang, menarik perhatian Clapp. Mereka hanya bisa dilihat secara keseluruhan dari langit. Membandingkan foto-foto satelit dengan peta tua, Clapp segera menyadari bahwa jejak dalam peta tua berhubungan dengan jejak dalam gambar yang diambil dari satelit. Tujuan akhir dari jejak adalah sebuah situs yang dikenal secara luas sebagai sebuah kota. Akhirnya, berkat kerja Thomas, dan dilanjutkan oleh Clapp-serta uluran tangan dari NASA-lokasi peneliti dari kota legendaris ini, yang menjadi subyek cerita-cerita lisan oleh Badui, ditemukan. Setelah beberapa saat, penggalian dimulai dan sebuah kota tua yang terpendam dalam kegelapan terangkat ke permukaan. Kota yang hilang ini dijuluki “Ubar, Kota Atlantis Padang Pasir.” Tapi mari kita bertanya: Apa yang membuktikan bahwa kota ini adalah kota yang pernah ditinggali oleh orang-orang ‘Ad yang disebutkan dalam Al Qur’an? Dari awal studi atas situs, dipahami bahwa kota yang hancur adalah milik ‘Ad. Para peneliti menemukan pilar Iram, yang secara khusus disebutkan dalam Al Qur’an dalam bentuk menara di tanah masyarakat ‘Ad. Dr Juris Zarins, anggota tim riset terkemuka mengatakan bahwa sejak menara itu diduga menjadi ciri khas dari Ubar dan karena Iram disebut memiliki menara atau pilar , maka ini merupakan bukti terkuat sejauh ini bahwa situs yang mereka temukan adalah Iram, kota ‘Ad yang dijelaskan dalam Al Qur’an: “Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (Al-Fajr : 6-8) Seperti yang terlihat, bahwa informasi yang diberikan oleh Al-Qur’an tentang peristiwa masa lalu sangat sejalan dengan informasi sejarah. Ini adalah bukti lain bahwa Al Qur’an adalah Firman Allah. Saat ini, seseorang yang melakukan perjalanan ke Arabia Selatan, yang paling sering ditemui adalah padang pasir yang luas. Kebanyakan tempat, dengan pengecualian dari kota-kota dan daerah-daerah yang telah ditanami pepohonan, ditutup dengan pasir. Padang pasir ini telah ada selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun. Namun dalam Al Qur’an, informasi yang menarik diberikan dalam salah satu ayat yang menceritakan tentang kaum ‘Ad. Ketika memberikan peringatan kepada umatnya, Nabi Hud as menarik perhatian mereka ke mata air dan kebun yang Allah telah karuniai kepada mereka: “Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun, dan mata air.” (Asy-Syua’ara : 133-134) Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Ubar yang telah diidentifikasi dengan kota Iram, dan tempat lain yang kemungkinan besar telah menjadi kediaman ‘Ad, benar-benar tertutup dengan padang pasir hari ini. Jadi, mengapa Hud as menggunakan ekspresi seperti itu sewaktu memberi peringatan kepada kaumnya? Jawabannya tersembunyi dalam sejarah perubahan iklim. Catatan sejarah mengungkapkan bahwa daerah-daerah yang sekarang berubah menjadi gurun pasir, dulu tanahnya pernah sangat produktif dan hijau. Sebagian besar daerah itu ditutupi dengan pepohonan dan mata air sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an. Kurang dari beberapa ribu tahun yang lalu, dan orang-orang di daerah itu memanfaatkan anugerah tersebut. Hutan melunakkan iklim yang keras di wilayah ini dan membuatnya lebih kondusif untuk ditinggali. Gurun ada, tapi tidak mencakup daerah yang luas seperti hari ini. Di Arabia Selatan, petunjuk penting telah diperoleh di daerah di mana ‘Ad tinggal, yang bisa memberikan pencerahan atas hal ini. Bukti menunjukkan bahwa penduduk ‘Ad menggunakan sistem irigasi yang terbilang maju kala itu. Irigasi ini kemungkinan besar hanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu adanya pertanian. Di daerah yang hari ini kehidupan menjadi sangat sulit, dahulu kala orang-orangnya justru pernah bercocok tanam. Pencitraan satelit juga telah mengungkapkan suatu sistem saluran kuno yang luas dan bendungan yang digunakan dalam irigasi di sekitar Ramlat yang diperkirakan mampu mendukung kehidupan 200.000 orang yang tinggal di kota-kota yang terkait. Doe, salah seorang peneliti mengatakan; “Sangat subur daerah sekitar Ma’arib, bahwa orang mungkin membayangkan bahwa seluruh wilayah antara Ma’arib dan Hadhramaut pernah ditanami.” Penulis Yunani klasik, Pliny, menggambarkan wilayah ini sangat subur, dan kabut menutupi hutan pegunungan, sungai dan wilayah hutan yang tak terputus. Dalam prasasti yang ditemukan di beberapa kuil kuno dekat dengan Shabwah, ibukota dari Hadramites, ditulis bahwa binatang-binatang diburu di daerah ini dan bahwa beberapa dikorbankan. Semua ini mengungkapkan bahwa daerah ini pernah ditutup dengan tanah yang subur sebagaimana gurun menutupinya sekarang ini. Kecepatan perubahan yang dihasilkan oleh pasir dapat dilihat dalam beberapa penelitian baru-baru ini yang dilakukan oleh Institut Smithsonian di Pakistan dimana daerah yang dikenal subur pada Abad Pertengahan telah berubah menjadi gurun pasir, dengan bukit pasir enam meter tingginya. Pasir dapat menelan bangunan tertinggi sekalipun, dan menutupi mereka seolah-olah mereka tidak pernah ada. Dengan demikian penggalian di Timna di Yaman pada tahun 1950 telah hampir sepenuhnya tertutup lagi. Piramida Mesir juga sepenuhnya berada di bawah pasir dan hanya sekali terungkap setelah penggalian yang sangat lama. Secara singkat, sangat jelas bahwa daerah padang pasir yang dikenal hari ini bisa memiliki penampilan yang berbeda di masa lalu. Di dalam Alquran, ‘Ad dikatakan telah binasa oleh badai. Dalam ayat-ayat Al Qur’an, disebutkan bahwa badai ini berlangsung selama tujuh malam dan delapan hari dan menghancurkan ‘Ad sehancur-hancurnya. “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang.” (Al-Qamar 19-20) Meskipun sebelumnya telah diperingatkan, kaum ‘Ad tidak memedulikan peringatan apapun dan terus membantah rasul mereka. Mereka berada dalam ilusi sehingga mereka bahkan tidak bisa mengerti apa yang terjadi ketika mereka melihat penghancuran mendekati mereka, yang masih saja dilanjutkan dengan penolakan mereka. “Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju lembah-lembah mereka, berkatalah mereka; ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.'” (Al-Ahqaf : 24) Dalam ayat tersebut, dinyatakan bahwa orang-orang melihat awan yang membawa bencana untuk mereka, tapi mereka tidak mengerti apa itu dan mereka berpikir bahwa itu adalah awan hujan. Ini merupakan indikasi penting tentang bagaimana bencana itu mendekati kaum ‘Ad, karena badai pun tampak seperti awan hujan dari kejauhan. Ada kemungkinan bahwa orang-orang ‘Ad tertipu oleh penampilan ini dan tidak menyadari bencana. Doe memberikan sebuah deskripsi tentang badai pasir (yang tampaknya dari pengalaman pribadi): “Tanda pertama (dari debu atau badai pasir) adalah mendekatnya udara yang penuh debu, yang tingginya bisa mencapai ribuan kaki, yang diangkat oleh kuatnya arus angin.” Dianggap sebagai sisa-sisa ‘Ad, “Kota Atlantis Padang Pasir, Ubar” ditemukan dibawah lapisan pasir setebal beberapa meter. Tampaknya badai pasir yang berlangsung selama “tujuh malam dan delapan hari”, berdasarkan deskripsi Al Qur’an, membawa berton-ton pasir yang menutupi kota itu dan mengubur penduduknya hidup-hidup. Penggalian dilakukan di titik Ubar untuk kemungkinan yang sama. Majalah Prancis, Ca M’Interesse, menyatakan sebagai berikut: “Ubar terkubur di bawah pasir setebal dua belas meter sebagai akibat dari badai pasir.” Bukti paling penting yang menunjukkan bahwa ‘Ad dikubur oleh sebuah badai pasir, adalah kata “ahqaf” yang digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukkan lokasi’ Ad. Gambaran yang digunakan dalam Surat al-Ahqaf adalah sebagai berikut: “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan) : ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab dihari yang besar.'” (Al-Ahqaf : 21) Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya (Harun Yahya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: