Mengapa Anak Manja

Manja adalah kecenderungan dalam diri anak untuk selalu menuntut perhatian dan pelayanan dari orangtua, saudara maupun orang lain. Tetapi, benarkah anak yang dituduh manja memang benar-benar manja?

Atau hanya karena orangtuanya saja yang memberi label anak manja atau malah orangtua yang menjadikan karakter anak menjadi manja?
Namun ada anak yang memang berperilaku manja dengan cara  merengek dan baru diam sesudah orangtuanya mengabulkan permintaannya. Ada anak-anak yang menjerit bila permintaannya tidak dikabulkan. Ada anak-anak yang tidak menghargai pemberian yang sederhana. Tapi itu belum tentu manja.

Sadar atau tidak, perilaku manja dalam diri anak bisa jadi akibat peran orangtua yang memanjakannya. Jangan memberikan label manja pada anak. Bila memberinya label manja, maka anak cenderung menjadi manja. Bila orangtua percaya si kecil manja, maka orangtua selalu menganggap segala sesuatu yang dilakukan si anak adalah manja. Bila melihat sesuatu yang dapat diinterpretasikan sebagai manja, maka orangtua seakan membuktikan keyakinan bahwa si kecil memang manja. Keyakinan yang melekat pada diri orangtua akhirnya dikomunikasikan kepada anak sehingga ia mulai melihat dirinya sebagai anak yang dimanja.

Disinilah orangtua berperan untuk mengajari anak dalam berperilaku dalam kehidupan. Memberikan label manja pada anak atau mengatakan anak manja, bukan merupakan sikap yang baik dari orangtua. Bila orangtua menyebut si kecil manja, yang anak dengar bukanlah manja, melainkan sebagai manja yang bisa merusak. Sayangnya, tak semua orangtua bisa bersikap tegas atau menolak kemauan dan keinginan anaknya.

 

Tujuh Mitos Anak Manja
HUH, dasar anak manja! Apa-apa harus dituruti!” Sering, kan, kita mendengar kalimat seperti itu? Tetapi, benarkah anak yang dituduh manja tersebut memang benar-benar manja? Yuk, kita simak mitos tentang anak manja.

Mitos 1: Anda berarti akan membuat anak jadi manja bila terlalu banyak menggendongnya. Kadang-kadang anak harus dibiarkan menangis. Jangan terlalu sering menggendong anak. Fakta: Dengan menggendongnya, tidak berarti memanjakan anak. Bayi memerlukan sentuhan, pelukan, dan mereka juga perlu digendong.

Mitos 2: Anak-anak tidak boleh tumbuh berkembang dengan perasaan bahwa mereka selalu bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.
Fakta: Diperlukan contoh yang efektif dari orangtua dalam mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak selalu bisa mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan. Diperlukan waktu dan kebiasaan agar hal ini bisa tercapai.
Bila Anda sedang berbelanja dan anak mengatakan, “Ma, aku boleh beli mainan ini, enggak?” berikan jawaban, “Tentu saja, tetapi bagaimana kamu akan membayarnya?” atau “Mengapa kamu menginginkan benda tersebut?” Tanyakan padanya berapa uang yang dimilikinya, atau apakah dia akan menabung agar bisa mendapatkannya.

Mitos 3: Memang ada anak-anak yang manja dari “sono”nya.
Fakta: Tidak ada anak yang terlahir manja. Manja merupakan kesimpulan dan penilaian yang dibuat oleh orang terhadap pengamatan suatu perilaku.

Mitos 4: Bagi sebagian anak, manja merupakan gambaran yang baik.
Fakta: Manja tidak pernah merupakan gambaran yang akurat bagi anak-anak. Manja tidak menggambarkan perilaku melainkan merupakan suatu penilaian.

Mitos 5: Sangat penting untuk menegur anak bila mereka bersikap manja.
Fakta: Memberikan label manja pada anak atau mengatakan mereka manja, bukan merupakan sikap yang baik dari orangtua. Bila Anda menganggap anak Anda manja, tanyakan pada diri Anda, perilaku yang mana yang membuat Anda menilai anak Anda manja?

Mitos 6: Anak-anak yang memiliki mainan yang berlimpah cenderung dimanja.
Fakta: Mitos tersebut tidak benar. Memiliki mainan atau barang-barang yang berlimpah bukan merupakan indikasi dari anak yang manja. Kita harus melihat bagaimana benda tersebut diperoleh, kegunaannya, dan bagaimana sikap anak tersebut terhadap benda-benda yang dimilikinya.

Mitos 7: Anak yang manja perlu diubah.

Fakta: Tidak. Yang perlu diubah adalah orangtuanya. Orangtua perlu mengubah perilaku mereka dalam menghadapi anak yang mengancam karena keinginannya tidak dikabulkan. Orangtua perlu menyisihkan waktunya untuk mengajarkan perilaku baru pada anak-anak mereka. Menghadapi konflik yang terjadi dan menyediakan waktu untuk mencari jalan keluarnya adalah apa yang harus orangtua lakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: