PEDULI AUTISME, MENSYUKURI NIKMAT SANG PENCIPTA


 

 

 

 

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak autis itu mencapai usia tiga tahun.Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak autis tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Mari peduli autisme dari sekarang!!

Anak itu berjalan terlena digandeng oleh ibunya, anak berusia kurang lebih 12 tahun itu pun mulai tersenyum kecil melihat banyak orang di kawasan Monas Jakarta. Ya, perubahan mimik mukanya sudah mulai terlihat sejak ia memasuki kawasan depan Istana itu. Wah! Apalagi nanti kalau ia sudah sampai di tempat tujuan ya, mungkin anak itu akan ceria secerah pelangi. Hari itu, bakal banyak teman-temannya yang datang dan mereka akan berjalan bersama di pagi hari nan cerah itu.

Benar saja dugaanku, anak itu, sebut saja namanya Alia, segera bereaksi setelah melihat dan disapa oleh sebagian besar orang yang datang dalam sebuah acara jalan pagi bersama. Suaranya pun sudah mulai terdengar senang. Ia mulai bertepuk tangan, dan … hoop! dia pun mencoba berlari. Sebuah aksi yang membuat kaget ibunya, tapi dengan sigap wanita setengah baya itu pun segera menangkap tubuh ananda tercinta. Apa yang ingin dilakukan Alia? Apakah ia ingin berlari-lari seperti kebanyakan kawan-kawannya di sana? Atau ia ingin bertegur sapa dan berbagi cerita seperti juga beberapa kawannya?

Oh, ternyata kali ini dugaanku salah. Alia hanya berdiri dan segera bergoyang. Ya! Dia berjoget mengikuti irama musik yang memang sedari tadi diputar keras oleh panitia. Wajahnya ceria sekali, bergoyang sambil bertepuk tangan, juga bersuara. Wajah ibunda pun dihiasi senyum tulus, setulus orang-orang dewasa yang tertarik perhatiannya karena aksi Alia itu. Mereka pun mendekat dan menegur Alia, sambil ikut juga berjoget.

Setiap orang yang menegur, tidak ada reaksi dari Alia. Tapi bagi setiap orang yang berjoget, Alia pun berteriak senang ke arah mereka. Alhasil, beberapa orang dewasa bahkan sejumlah anak-anak (kawan Alia) pun ikut bergerak badan seiring irama musik. Segar sekali, senang sekali dan riang pula!

* * *

 

 

 

Alia sombong? Alia tak punya sopan santun? Alia aneh? Ah, jauh-jauhlah pikiran dan pertanyaan itu dari benak orang yang ada di sana waktu itu (juga dari Anda yang membaca tulisan ini). Lalu mengapa Alia tak mau membalas teguran orang-orang dewasa di sana? Lalu mengapa Alia meneriaki orang-orang yang berjoget?

Itu semua karena kelebihan yang dimiliki Alia. Sebuah kelebihan yang berada di spektrum Autistik. Ya, Alia adalah anak dengan Autisme, satu dari sekian banyak anak dengan gangguan perkembangan yang ada di Indonesia. Alia punya dunianya sendiri, dan barang siapa punya frekuensi sama dengannya, maka Alia pun akan segera nyambung, dengan apapun caranya. Dalam hal ini, Alia menggunakan bahasa gerakan atau goyangan tubuhnya yang menandakan dia sedang bergembira. Nah, kalau ia melihat ada orang-orang yang juga bergembira sepertinya, Alia akan segera berteriak seolah ia ingin berkata, “Hai! Selamat pagi! Apa kabar? Senang yaaa…

* * *

 

 

 

 

Dari sudut dunia kesehatan, Autisme dikatakan bukan penyakit dan tidak menular. Autisme hanya sebuah gangguan perkembangan yang berada di sepanjang spektrum Autistik. Bisa dikatakan masing-masing anak memiliki kadar Autisme yang berbeda, dan tentunya mesti mendapatkan perlakuan yang berbeda pula. Hingga kini, hampir semua orang mempertanyakan apa itu Autisme. Mengapa ada anak-anak yang seolah memiliki dunia mereka sendiri sehingga mengganggu interaksi dengan orang lain?

Istilah Autis sendiri berasal dari bahasa Yunani, yang berarti ‘di dalam diri sendiri’. Gangguan ini pertama kali dikenali oleh seorang ilmuwan bernama Leo Kanner pada tahun 1943. Hingga kini, dunia kedokteran/kesehatan masih belum bisa menegakkan secara pas, apa penyebab dan bagaimana pola penanganan anak-anak Autis. Namun fakta bahwa dalam 100 anak terdapat 1 anak Autis merupakan fakta yang tak terbantahkan di seluruh dunia. Mereka banyak dan mereka nyata ada di sekitar kita, dan yang paling penting, mereka butuh pendampingan yang memadai. Untuk apa? Tentunya untuk mengarahkan potensi yang ada dalam diri mereka. Seorang ahli pernah berkata, “Untuk Autisme, anak-anak bukan disembuhkan, tapi diarahkan dan dikembangkan potensi mereka

Sementara itu, di dunia pendidikan, telah sekian lama pemerintah telah mengupayakan pembangunan Sekolah Luar Biasa alias SLB untuk anak-anak Autis yang memang berada di spektrum bermasalah. Salah satu contoh, sama sekali tidak bisa berinteraksi dan atau memiliki pola interaksi yang berbeda dengan anak seusia. Namun itu ternyata tidak cukup, mengingat spektrum Autistik yang memang sangat luas dan panjang. Ini mengharuskan pemerintah memperhatikan juga anak-anak Autis di spektrum yang lain. Nah, untuk itu, sejak 7 tahun lalu, pemerintah telah mengembangkan program sekolah inklusi. Sebuah program yang menggabungkan anak-anak Autis dengan anak-anak seusia mereka di sekolah formal yang sudah ada. Misalnya ada sebuah SD negeri yang dibuat inklusi oleh pemerintah. Bagaimana cara? Ya, dengan menambah materi ajar, juga menambah dan membekali para pengajar, juga menambah fasilitas yang ada, sehingga anak-anak Autis pun mempunyai kesempatan yang sama seperti anak seusia mereka.

Hingga kini, baru ada 200 sekolah inklusi yang tersebar di seluruh nusantara. Ini tentu masih dirasa kurang melihat jumlah anak Autis yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan sebarannya pun meluas. Untuk itu, pemerintah berkomitmen untuk menembus angka 1000 sekolah inklusi di tahun 2014. Sebuah target yang dipasang untuk mengejar ketertinggalan bangsa ini dalam menangani masalah Autisme, bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Autisme bukan penyakit dan tidak menular. Slogan ini disampaikan untuk menanggapi reaksi para orangtua murid yang enggan atau bahkan tidak membiarkan anak-anak mereka bergaul dengan anak Autis. Mereka kira, anak-anak mereka bakal tertular dan ikut berpola laku seperti anak Autis. Padahal tidak sama sekali dan anggapan itu bahkan bisa berakibat fatal bagi anak-anak bangsa dengan Autisme. Justru dengan pergaulan yang inklusif, anak-anak Autis bisa dengan baik mengembangkan potensi mereka. Hingga kini sudah banyak hasil yang dilihat dari program inklusi ini, mulai dari keberhasilan sejumlah anak-anak Autis menembus perguruan tinggi negeri favorit, hingga kesuksesan mereka meraih gelar master di luar negeri. Suatu pencapaian yang luar biasa bukan?

* * *

 

 

 

Tapi, satu hal yang terasa masih kurang ada di negeri yang kabarnya penuh dengan nuansa ramah tamah ini. Hal tersebut adalah rasa simpati dan rasa kepedulian antar sesama. Seorang kawan yang menjadi relawan Autisme pernah berkata, “Ah jangankan peduli Autisme yang bukan penyakit, anak-anak yang jelas-jelas sakit pun, tidak….” Pernyataan ini mengacu pada ketidakpedulian masyarakat terhadap anak-anak yang sakit kanker misalnya. Ah, apakah sudah sedemikian jauh?

Tanpa berburuk sangka terhadap bangsa sendiri, kita mesti mengerti benar apa dan bagaimana ketidakpedulian itu bisa terbentuk di kalangan masyarakat. Apakah karena pola hidup yang penuh persaingan nan padat dan ketat setiap harinya? Sehingga ini menyita seluruh perhatian masyarakat Indonesia, dan cuma satu hal yang dipedulikan: Bertahan Hidup! Atau apakah karena ketidaktahuan mereka atas informasi mengenai masalah-masalah tadi (Autisme dan Kanker Anak misalnya)? Sehingga boro-boro peduli, apa itu Autisme saja masih gagap…

Tapi, satu hal yang mesti diperhatikan adalah, apalagi kita tidak tahu satu hal, jangan pakai istilah yang kita sendiri tidak paham benar untuk sekedar guyonan. Misalnya, menyebut seseorang kawan yang sangat berkonsentrasi dengan bukunya sehingga tak membalas sapaan kita, lalu kita sebut ia sebagai ‘Autis’. Ah, sebuah guyonan yang tak lucu! Karena Autisme bukan bahan lelucon. Autisme adalah pemberian Sang Khalik kepada manusia yang menyandangnya. Kurang lebih sama seperti warna kulit kita, model helai rambut kita, yang memang sudah dari sononya seperti itu. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan apa yang ada dalam diri kita itu untuk kebaikan bersama, bukan?

Jadi, apabila kita memang benar-benar peduli terhadap Autisme, segeralah mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi terkait gangguan perkembangan anak tersebut. Lalu kenali anak-anak Autis lebih jauh dan terima mereka apa adanya. Dengan tidak menggunakan kata ‘Autis’ sebagai bahan guyonan, itu sudah langkah positif yang kita lakukan untuk mendukung keberadaan anak-anak seperti Alia di sekitar kita. Ingat, peduli autis, berarti kita juga mensyukuri nikmat dari Sang Maha Pencipta.

Salam Peduli!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: