FENOMENA BRAINWASHING

Berbagai kasus menarik akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan ‘Brain Washing’. Sebenarnya ada fenomena apakah dibalik proses yang katanya ‘pencucian otak’ itu. Apakah memang benar hal itu adalah proses ‘pencucian otak?’

Untuk memulainya, marilah kita mengingat kembali peristiwa yang terjadi dalam dua pecan terakhir. Pertama, Kasus Lian Febriani yang diduga sebagai korban pencucian otak (brainwashing), terutama semenjak dia ditemukan linglung di suatu Masjid di Puncak setelah menghilang selama 4 hari. Saat ditemukan 4 hari kemudian, Lian mengenakan jilbab bercadar dan menginap di Masjid Ata’awwun Puncak, Bogor, seorang diri. Takmir Masjid menjadi curiga pada perempuan ini, karena diajukan berbagai pertanyaan padanya , seperti “Siapa Nama Ibumu?” dan lain-lain, selalu dijawab “Tidak tahu “ dan “Lupa”. Setelah dipancing-pancing dengan angka-angka, ia bisa mengingat nomer telpon suaminya. Saat suaminya datang, dan dipertemukannya, ia sama sekali tidak mengenalnya, bahkan tidak kenal pula pada anaknya sendiri. Jelas-jelas ia mengalami fenomena amnesia berat (amnesia : lupa pada memori-memori kehidupan).

Kedua, kasus ‘penculikan’ yang konon katanya mengatasnamakan kelompok aliran islam ekstremis tertentu dalam melakukan rekruitmen anggotanya. Dikatakan dalam mempengaruhi perilaku calon anggotanya itu, mereka menggunakan teknik ‘brain washing’. Hal ini diperkuat oleh pemberitaan di media yang menampilkan penuturan salah satu korban, bahwa ada upaya ‘pencucian otak’ dengan cara-cara tertentu dan sistemis.

Hemat saya, sebenarnya, kasus Lian dan ‘penculikan’ oleh kelompok tertentu ini belum jelas dan masih diliputi kabut misteri, sebab ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada diri Lian dan para korban penculikan. Apa benar Lian ini merupakan korban brainwashing alias cuci otak? Perlu dilakukan upaya forensik, dengan cara melakukan terapi untuk mengembalikan kondisi amnesia ini ke normal terlebih dahulu, sehingga kita tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Jadi kita tidak akan berspekulasi apa yang terjadi pada Lian dan korban lainnya sebelum upaya ini dilakukan.

Secara umum, kasus-kasus orang yang lupa (amnesia) dan menjadi ‘tidak wajar’, bisa saja disebabkan oleh berbagai hal, antara lain kemungkinan penyebabnya :

Pertama, amnesia karena sebab fisik, misal kecelakaan atau kebentur sesuatu, sehingga mungkin terjadi “hubungan pendek” diantara memory yang tersimpan di dalam syaraf otak. Untuk point pertama ini, dokter dan ahli syaraf lebih bisa menjelaskan dengan baik dan benar.

Kedua, amnesia karena tekanan psikologis seperti stress, banyak pikiran, bingung mempelajari ilmu yang mengandung filsafat ‘terlalu tinggi’, tidak kuat mengalami tekanan hidup, dan sebagainya. Pada saat bingung ini, lantas yang bersangkutan melakukan ‘identifikasi diri’ dengan suatu keyakinan. Mungkin akibat yang dia pelajari dari suatu sumber. Ini sering berkaitan dengan yang disebut waham atau delusi.

Ketiga, amnesia karena dilakukan brainwashing dengan sengaja. Ini yang paling menimbulkan horor dan misteri bagi masyarakat.

Nah, untuk kali ini pembahasan akan lebih menitikberatkan pada amnesia karena brain washing. Ada berbagai kemungkinan kenapa orang mengalami brainwashing, antara lain :

Pertama, rekrutmen suatu Cult / Sekte Agama atau untuk Kelompok Militan tertentu. Umumnya mereka melakukan dengan cara membuat orang kecewa pada kehidupan saat ini, menunjukkan bahwa budaya dan jaman sudah terlalu bejat, terlalu berdosa dan sebagainya. Kekecewaan ini akan diutilisasi untuk proses brainwashing berikutnya. Untuk memisahkan diri dengan MASA KINI dah hidup di MASA DEPAN, maka umumnya mereka akan diberi identitas baru.

Kedua, fitnah ke kelompok lain. Melakukan brainwashing dengan cara dilakukan seolah  dari kelompok lain tertentu. Biasanya keanehan akan muncul dari banyaknya “bukti kebetulan” yang bertebaran di sekitar si korban. Lantas bukti ini semuanya akan menyorot ke arah tertentu yang sangat jelas.

Ketiga, mengalami sial sebagai akibat orang iseng yang nyoba-nyoba ilmu brainwashing. Ini mungkin sekali terjadi, mengingat ilmu-imu semacam ini beredar bebas di internet, dan mungkin jatuh ke tangan orang iseng yang tidak bertanggung jawab.

Yang menarik adalah, fenomena ini sudah mendapatkan banyak sekali komentar yang penuh keyakinan, bahwa kasus Lian dan korban lainnya ini adalah akibat ini ataupun itu. Silahkan Anda cermati di Twitter, Facebook, dan media internet, yang menuliskan seolah sudah terbukti bahwa kasus Lian ini adalah upaya rekrutmen dari kelompok Islam ekstrim tertentu. Eksposisi ini kadang dituliskan terang-terangan, maupun secara implikatif dalam kalimatnya. Disinilah kita perlu berhati-hati berkomentar, benarkah ini memang dari aliran Islam tertentu? Atau benarkah ini dari Islam? Atau justru seperti di point ke dua, fitnah kepada Islam atau aliran Islam tertentu, agar bisa dikambinghitamkan atau diberantas? Saya tidak ingin membela siapapun, karena tulisan ini lebih pada kajian brainwashing sebagai salah satu bentuk ekstrim dari manipulasi bawah sadar manusia.

Teknik utama dalam brainwash adalah sesuatu yang sifatnya repetitive dan intensif serta menjangkau emosi yang intens dari seseorang. Akan lebih dipermudah apabila dibantu dengan perangkat tambahan seperti music dengan ketukan 45-72 permenit yang seirama dengan detak jantung manusia, atau dengan ucapan yang memiliki irama 35-60 ketukan permenit. Prinsip tersebut yang kemudian digunakan dalam dunia periklanan dalam mempengaruhi penonton untuk membeli atau memilih sebuah produk. Prinsip ini pula yang digunakan Hitler untuk mendoktrinasi tentara dan masyarakatnya.

Dan, tentu saja aktivitas repetitive lainnya bahkan termasuk shalat dan bacaannya akan menyiapkan otak untuk sebuah proses brainwashing. Mengapa shalat bisa menyiapkan otak secara tepat untuk terjadinya proses brainwashing, karena kondisi yang paling gampang memasukkan program baru ke dalam otak adalah kondisi alpha. Kondisi alpha akan sangat mudah tercapai dalam situasi tenang dan relaks. Dan shalat sama halnya dengan kondisi hypnosis lain dapat menciptakan situasi ini. Celakanya, apabila dalam subconscious atau pun conscious manusia terdapat banyak emosi menyakitkan (emosi intens) yang telah di-repress, maka dalam kondisi alpha ini pun bisa muncul kembali ke permukaan conscious mind.

Sehingga, ketika subconscious mind belum tertangani dengan baik, maka stimulus yang mirip akan diasosiaskan dengan pengalaman yang tidak disadarinya itu. Atau bisa juga karena pengkondisian akan superego mengenai moral baik dan buruk. Sebagai contoh, seseorang yang dulunya pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil dan defense mechanism dari sistem ego secara otomatis memilih proses repress yang sama sekali tidak disadari sehingga terlupakan ketika dewasa, apabila suatu saat mendapat stimuli yang dianggap mirip ditambah dia seringkali melatih diri untuk berada dalam kondisi alpha tersebut, maka dia akan menyebut peristiwa yang dialaminya sama dengan pengalaman sebelumnya. Di sini, akhirnya kita perlu melihat apakah pengalaman yang dianggap sebagai pelecehan seksual adalah sebuah proses brainwashing melalui sebuah metode pengkondisian atau justru sebaliknya pengkondisian ini membuat pengalaman masa lalu muncul kembali sehingga timbullah suatu proses yang disebut delusi “menginterpretasikan pengalaman secara keliru dari kenyataannya”

Jika memang benar ini merupakan brainwashing, dan efeknya belum terlalu dalam, kadang hal seperti ini bisa berangsur pulih dengan sendirinya, sejalan familiarisasi dengan orang-orang, benda-benda, dan kata-kata yang memiliki ikatan emosi dengannya. Karena memori selama 26 tahun, tentunya masih memiliki jejak yang kuat, hanya mungkin sudah dibolak-balik dan sempat amburadul.

Jadi, cara terbaik memulihkan amnesia semacam ini, tidak dengan cara mengisolasi si korban, namun justru dibawa dalam lingkungan yang dia familier dengannya.  Pertemuan korban dengan berbagai hal yang ia familier akan bisa memicu memorinya, kisah-kisah kehidupan, foto-foto, video, benda kesayangan, panggilan unik, dan lain-lain.

Dengan menggunakan pendekatan hypnotherapy, upaya di atas bisa dilakukan dengan lebih baik, khususnya melalui pola age regression khusus yang aman dan terkontrol serta membangun jaring-jaring pengaman emosi untuk menghindari abreaction yang tidak perlu. Ahli-ahli hypnotherapy akan punya banyak cara untuk membantu proses pemulihan amnesia ini dengan cara-cara yang kreatif dan aman.

Untuk kasus yang amat berat, tidak ada janji akan pulih dengan cepat. Memang terkadang bisa saja recovery terjadi cepat dan mudah, namun bisa pula perlu waktu, karena terkadang upaya ini baru akan membuahkan hasil apabila kita berhasil menemukan suatu keyword yang dapat meng-undo proses pengrusakan memory yang dilakukan oleh pelaku. Mirip dengan upaya mencari password yang hilang. Di dunia software Anda pasti pernah dengar beredar software password recovery, yang dapat mengungkap ulang suatu password yang hilang /terlupakan. Nah, pola kerjanya mirip seperti itu. Sekali ketmu suatu password yang bisa mengenali memory tertentu, maka dari sini bisa bergerak perlahan untuk mengungkap memory yang lain.

Jadi, sambil Anda mencermati dengan semakin baik apa yang saya maksudkan diatas, saya akan akhiri tulisan ini dengan tips-tips menghindari upaya brainwashing atau perusakan memori diluar kehendak Anda.

Pertama, sebelum perasaan atau reaksi, berpedomanlah pada nilai-nilai personal, sosial atau universal yang sudah ditanam sejak kecil. Kita perlu berlatih untuk menjadikan ajaran, prinsip, atau nilai-nilai sebagai penggerak tindakan. Jangan melulu menuruti perasaan reaktif, pemahaman benar sendiri, atau kepentingan pribadi atau kelompok, meski ini terkadang tetap harus kita lakukan sebagai bukti bahwa kita bukan robot.

Kedua, berlatih menjadi orang yang toleran dan fleksibel. Tak berarti kalau kita keras dan anti toleransi itu kuat. Seringkali malah mudah patah ketika dihadapkan pada problem atau kenyataan. Kalau tidak patah, kita bisa membabi buta. Misalnya kita keras terhadap pemahaman keagamaan tertentu. Jika kerasnya itu melebihi batas, mungkin kita malah akan melanggar nilai-nilai agama. Supaya kita bisa toleran dan fleksibel, latihannya adalah memperluas dan mem-variatifkan pergaulan agar gesekan terjadi.

Ketiga, terbuka, tidak pernah fanatik terhadap pemikiran, konsep, sistem, atau paradigma berpikir yang lahir dari proses kreatif manusia. Kita hanya perlu fanatik pada nilai etika universal, semacam kejujuran, tanggungjawab, dan semisalnya, yang jumlahnya sedikit. Hasil proses kreatif manusia itu perlu kita gunakan sebagai referensi atau alat yang kita pilih untuk menghadapi keadaan tertentu yang bisa berubah kapan saja.

Banyak aksi kekerasan yang berlatar belakang paham agama karena pelakunya gagal membedakan mana yang wahyu dan mana yang hasil “proses kreatif” pemimpin agamanya. Fanatik terhadap konsep manajemen profesor anu, malah membuat kita tidak bernilai manajemen. Fanatik terhadap sistem demokrasi malah membuat kita tidak bernilai demokrasi. Fanatisme yang salah membuat kita sengsara sendiri.

Keempat, memperkuat logika hidup, dalam arti gunakan otak secara kritis dan analitis. Ini hanya bisa dilatih ketika kita semakin tersambung hubungan kita dengan diri sendiri, misalnya kita tahu apa tujuan kita, jalur hidup kita, nilai-nilai kita, orang yang pas untuk kita, apa yang kita perjuangkan, masalah kita, dan seterusnya.  Jika kita blank terhadap diri sendiri, logika hidup kita gampang jebol atau gampang larut.

Kelima, berani mengatakan “TIDAK” pada ajakan, himbauan, saran, nasehat, pendekatan yang oleh akal sehat kita aneh, yang ciri-cirinya sudah kita singgung di muka.

Semoga dapat membantu mencegah Anda untuk terjebak dalam hal-hal yang tidak Anda . Saya tidak akan menyimpulkan apapun. Saya hanya ingin memberikan sebuah quote dari seorang psikolog kontemporer dan pakar pikiran, Milton H. Erickson yang banyak melakukan penelitian antara psikologi dan hypnotherapy. “Don’t believe everything you think”. Dalam artikelnya yang dimuat di American Psychological Association journal dia menyatakan sebagai berikut, “Psychology has traditionally viewed religious or meditative experience as separate from consciousness. Instead, Rosch holds that the field ought to study such experience “to challenge our image of what normal everyday consciousness itself may be.” In her view, consciousness is a limited way of knowing, while meditation-induced “awareness” is a broader, wiser way of knowing–a sort of expanded consciousness”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: